WIRAUSAHAWAN
MATA KULIAH
KEWIRAUSAHAAN
MBB 7201
Dosen Pengampu M.K.:
Dr.
V. R. Palilingan, M.Eng.
Quido Kainde, S.T., M.T.
Quido Kainde, S.T., M.T.
Disusun oleh:
Kelompok 4
Kelas B Semester VII
1. Devin Massie 10 311 064
2. Novita Manaroinsong 10
310 939
3. Raimond Rambing 10
311 064
4. Virginia Langie 10
313 255
5. Marsili S. Johanis 11
310 543
6. Richo N. Rogahang 11
310 436
PROGRAM STUDI
PENDIDIKAN TEKNOLOGI INFORMASI & KOMUNIKASI
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS NEGERI MANADO
2013
INSPIRASI 1
Nama Usaha : Bakso Kota Cak Man
Penemu/Pencipta : Abdur Rachman Tukiman
Usaha yang dilakukan : Penjualan Produk Makan Bakso Malang
Jenis usaha : Personal (non merger)
Motivasi Usaha : Meningkatkan ekonomi, mempraktikkan
keahlian yang dimiliki, ingin
memiliki fasilitas usaha yang lebih baik.
memiliki fasilitas usaha yang lebih baik.
Pengalaman :
Semenjak usia 9 tahun sudah harus mencari nafkah karena sang Bapak telah meninggal dunia. Awalnya memiliki usaha menjual berbagai macam hasil bumi seperti sayuran, kayu bakar, daun jati, dll dengan penghasilan harian hanya sebesar Rp35. Selanjutnya pada usia 19 tahun pergi ke Malang untuk bekerja di salah satu juragan bakso tersohor di Trenggalek dengan upah Rp75/hari, dan kemudian usaha juragan bakso tersebut bangkrut. Selanjutnya bekerja di juragan bakso lain, yang kemudian bangkrut. Bekerja lagi pada juragan bakso lain bernama Suyatno, yang lagi-lagi kandas. Dengan ilmu meracik bakso yang dia rasa sudah mumpuni dimilikinya, maka Cak Man pun membuka usaha sendiri dengan modal Rp77.000 dari hasil tabungannya pada tahun 1984. Selanjutnya tahun 1986 seseorang menawarinya untuk memanfaatkan lahan Negara di sebelah Kantor kecamatan Blimbing. Usaha Cak Man pun terus berkembang sampai Bakso Kota Cak Man mendapatkan hak paten, menjadi PT (Perseroan Terbatas) dengan omzet ratusan juta rupiah setiap harinya.
Semenjak usia 9 tahun sudah harus mencari nafkah karena sang Bapak telah meninggal dunia. Awalnya memiliki usaha menjual berbagai macam hasil bumi seperti sayuran, kayu bakar, daun jati, dll dengan penghasilan harian hanya sebesar Rp35. Selanjutnya pada usia 19 tahun pergi ke Malang untuk bekerja di salah satu juragan bakso tersohor di Trenggalek dengan upah Rp75/hari, dan kemudian usaha juragan bakso tersebut bangkrut. Selanjutnya bekerja di juragan bakso lain, yang kemudian bangkrut. Bekerja lagi pada juragan bakso lain bernama Suyatno, yang lagi-lagi kandas. Dengan ilmu meracik bakso yang dia rasa sudah mumpuni dimilikinya, maka Cak Man pun membuka usaha sendiri dengan modal Rp77.000 dari hasil tabungannya pada tahun 1984. Selanjutnya tahun 1986 seseorang menawarinya untuk memanfaatkan lahan Negara di sebelah Kantor kecamatan Blimbing. Usaha Cak Man pun terus berkembang sampai Bakso Kota Cak Man mendapatkan hak paten, menjadi PT (Perseroan Terbatas) dengan omzet ratusan juta rupiah setiap harinya.
Pendanaan Usaha : Modal awal Rp77.000 (Tahun 1984) yang merupakan hasil tabungan, selanjutnya melalui omzet harian Rp500 juta
(Setiap gerai menghasilkan Rp 3 juta sampai Rp 7 juta per
hari).
Pengembangan Usaha : Membuka gerai/cabang di seluruh Indonesia
(total 86 gerai),
Pewaralabaan (franchising)
Pewaralabaan (franchising)
Keeksisan bisnis :
Pemanfaatan konsep-konsep berdagang (variasi menu, waralaba,
teknik memasak)
teknik memasak)
Ketahanan bisnis :
Mempersilahkan pelanggan (mahasiswa, pelajar, masyarakat umum)
untuk melihat langsung proses pemasakan menu bakso Malang,
untuk melihat langsung proses pemasakan menu bakso Malang,
Variasi
Menu
INSPIRASI 2
Nama
Usaha : Singkong Tela Tela
Penemu/Pencipta : Febri Triyono dkk.
Usaha yang dilakukan : Penjualan Produk Makanan Kudapan Singkong
Jenis usaha : Grup (non merger)
Motivasi Usaha : Mengatasi masalah keuangan keluarga,
usaha-usaha yang
telah dilakukan hasilnya tidak mencukupi
telah dilakukan hasilnya tidak mencukupi
Pengalaman :
Pada September 2005 usaha mereka dimulai, dimana pada saat itu Febri dan Eko (Eko adalah saudara kandung Febri) mencari usaha yang bisa mengatasi masalah keuangan keluarga mereka, yakni saat itu Ibu mereka sedang terlilit hutang. Bersama dua teman kuliah Eko, yakni Ashari dan Fath, empat anak muda ini menjual singkong goreng dengan potongan yang lebih praktis. Mereka mengajukan pinjaman Rp 3,5 juta ke Bank untuk membuat gerobak dan perlengkapan lainnya. Pertama mereka berjualan di lingkungan kampus UGM. Karena diusir satpam, Febri memindahkan dagangannya di dekat rumahnya yang berada di lingkungan kos mahasiswa di Tambakbayan, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY. Peluang bagi mereka untuk mengembangkan usaha datang ketika mendapat tawaran untuk mengikuti Atma Jaya Expo 2005 di Yogyakarta. Dari situ mereka sukses besar, karena bisa menjual 4-5 kuintal singkong dalam 5 hari. Setelah Atma Jaya Expo, Febri mulai menata usahanya, antara lain dengan mendesain kemasan dan gerobak, selain mulai mengadopsi sistem waralaba. Setiap orang yang berminat membuka usaha Tela Tela cukup menyediakan modal Rp12 juta untuk dua gerai. Selanjutnya, para agen harus menyetorkan 3 persen dari omzet kotor tiap gerai per bulan.
Pada September 2005 usaha mereka dimulai, dimana pada saat itu Febri dan Eko (Eko adalah saudara kandung Febri) mencari usaha yang bisa mengatasi masalah keuangan keluarga mereka, yakni saat itu Ibu mereka sedang terlilit hutang. Bersama dua teman kuliah Eko, yakni Ashari dan Fath, empat anak muda ini menjual singkong goreng dengan potongan yang lebih praktis. Mereka mengajukan pinjaman Rp 3,5 juta ke Bank untuk membuat gerobak dan perlengkapan lainnya. Pertama mereka berjualan di lingkungan kampus UGM. Karena diusir satpam, Febri memindahkan dagangannya di dekat rumahnya yang berada di lingkungan kos mahasiswa di Tambakbayan, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY. Peluang bagi mereka untuk mengembangkan usaha datang ketika mendapat tawaran untuk mengikuti Atma Jaya Expo 2005 di Yogyakarta. Dari situ mereka sukses besar, karena bisa menjual 4-5 kuintal singkong dalam 5 hari. Setelah Atma Jaya Expo, Febri mulai menata usahanya, antara lain dengan mendesain kemasan dan gerobak, selain mulai mengadopsi sistem waralaba. Setiap orang yang berminat membuka usaha Tela Tela cukup menyediakan modal Rp12 juta untuk dua gerai. Selanjutnya, para agen harus menyetorkan 3 persen dari omzet kotor tiap gerai per bulan.
Pendanaan Usaha :
Modal awal Rp3.500.000 yang merupakan pinjaman ke bank,
selanjutnya
melalui omzet harian Rp80 juta – Rp 100 juta
Pengembangan Usaha : Membuka gerai/cabang di seluruh Indonesia
(total 1.650 gerai),
Pewaralabaan (franchising), rencana ekspor ke luar negeri.
Keeksisan bisnis :
Pendesainan kemasan dan gerobak, variasi menu, pemilihan bahan
baku
Ketahanan bisnis :
Mengadakan pelatihan bisnis bagi para agen
INSPIRASI 3
Nama
Usaha : Es Teler 77
Penemu/Pencipta : Sukyatno Nugroho
Usaha yang dilakukan : Penjualan Produk Makanan & Minuman dengan produk utama Es Teller
Jenis usaha : Personal (non merger)
Motivasi Usaha : Meningkatkan ekonomi, mempraktikkan
keahlian yang dimiliki
Pengalaman :
Sukyatno dengan bekal ijazah SMP mencoba mengadu nasib sebagai salesman barang-barang kelontong di Jakarta. Ia pun pernah sebagai pemborong bangunan reklame, usaha percetakan, biro jasa sekaligus sebagai tukang catut. Ternyata dari berbagai macam pekerjaan itulah, ia seolah melanjutkan belajar di “sekolah kehidupan” untuk menimba ilmu penjualan dan pemasaran. Suatu momentum “daya ungkit” terjadi ketika ibu mertua dari Sukyatno memenangi lomba membuat es teller pada 1982. Insting bisnis Sukyanto pun muncul dan resep es teller itu pun dia tiru mentah-mentah. Bermodalkan uang Rp 1 juta, pada 1982, ia membuka warung es teller pertamanya di halaman pusat pertokoan Duta Merlin, Jakarta. Pada tahun 1987 bisnisnya amat sukses sehingga ia mencoba melakukan waralaba. Waktu itu belum ada informasi mengenai franchise dalam bahasa Indonesia, sehingga ia mencoba menciptakan sistem waralabanya senidiri. Waralaba pertama berdiri di Solo dan kemudian di Semarang seminggu kemudian. Agar dapat memajang mereke Es Teller 77 terwaralaba cukup membayar sejumlah dana dan royalti 4 persen dari omzet penjualannnya.
Sukyatno dengan bekal ijazah SMP mencoba mengadu nasib sebagai salesman barang-barang kelontong di Jakarta. Ia pun pernah sebagai pemborong bangunan reklame, usaha percetakan, biro jasa sekaligus sebagai tukang catut. Ternyata dari berbagai macam pekerjaan itulah, ia seolah melanjutkan belajar di “sekolah kehidupan” untuk menimba ilmu penjualan dan pemasaran. Suatu momentum “daya ungkit” terjadi ketika ibu mertua dari Sukyatno memenangi lomba membuat es teller pada 1982. Insting bisnis Sukyanto pun muncul dan resep es teller itu pun dia tiru mentah-mentah. Bermodalkan uang Rp 1 juta, pada 1982, ia membuka warung es teller pertamanya di halaman pusat pertokoan Duta Merlin, Jakarta. Pada tahun 1987 bisnisnya amat sukses sehingga ia mencoba melakukan waralaba. Waktu itu belum ada informasi mengenai franchise dalam bahasa Indonesia, sehingga ia mencoba menciptakan sistem waralabanya senidiri. Waralaba pertama berdiri di Solo dan kemudian di Semarang seminggu kemudian. Agar dapat memajang mereke Es Teller 77 terwaralaba cukup membayar sejumlah dana dan royalti 4 persen dari omzet penjualannnya.
Sekitar
tahun 1997, ia memperkenalkan gerai baru “Mie Tek-Tek” dan “Ikan Bakar Pasti
Enak”. Bahkan, gerai Es Teller 77 di Swanson Street, Melbourne yang 50 persen
sahamnya dimiliki oleh orang Australia juga dapat beroperasi dengan baik.
Sekitar
pertengahan tahun 2003, keluarga Sukyatno memperoleh penawaran dari pengelola
gedung Wisma BNI 46 untuk memanfaatkan lokasi di lantai 46 yang semula
merupakan fasilitas American Club dan
lantai 47 yang semula ditempati oleh sebuah kantor. Anak dari Sukyatno Nugroho,
Fredella Nugroho pun mendirikan restoran masakan Asia di tempat tersebut,
dengan nama Restoran Cilantro Asia Bistro & Lounge, dengan keunggulannya
yaitu menyajikan menu Thailand, Jepang, dan China, juga menawarkan pemandangan
yang menakjubkan bagi pengunjungnya.
Pendanaan Usaha :
Modal awal Rp1.000.000 (Tahun 1982) dari uang pribadi, selanjutnya melalui omzet harian.
Pengembangan Usaha : Membuka gerai/cabang di seluruh Indonesia
(total 300-an gerai),
membuka gerai di bidang lain yakni gerai Mie Tek-Tek
dan gerai
Ikan Bakar Pasti Enak, Restoran Cilantro
Asian Bistro & Lounge.
Keeksisan bisnis :
Pemanfaatan konsep-konsep berdagang (variasi menu, waralaba, teknik memasak), variasi usaha (gerai
minuman & makanan, serta restoran), pemilihan lokasi gerai (dalam
negeri sampai luar negeri)
Ketahanan bisnis :
Menciptakan standar dan sistem manajemen yang baik, serta pendirian pusat pelatihan, distribusi royalti,
peningkatan SDM.

